Lubang Buaya
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Perubahan tertunda ditampilkan di halaman iniBelum Diperiksa
Langsung ke: navigasi, cari
Untuk nama kelurahan, lihat Lubang Buaya, Cipayung, Jakarta Timur.
Gambar Lubang Buaya
Lubang Buaya adalah sebuah tempat di kawasan Pondok Gede, Jakarta yang menjadi tempat pembuangan para korban Gerakan 30 September pada 30 September 1965. Secara spesifik, sumur Lubang Buaya terletak di Kelurahan Lubang Buaya di Kecamatan Cipayung, Jakarta Timur.
Lubang Buaya pada terjadinya G30S saat itu merupakan pusat pelatihan milik Partai Komunis Indonesia. Saat ini di tempat tersebut berdiri Lapangan Peringatan Lubang Buaya yang berisi Monumen Pancasila, sebuah museum diorama, sumur tempat para korban dibuang, serta sebuah ruangan berisi relik.
Nama Lubang Buaya sendiri berasal dari sebuah legenda yang menyatakan bahwa ada buaya-buaya putih di sungai yang terletak di dekat kawasan itu.
Diposting oleh
dewi sherina
/
Comments: (0)
Monumen Nasional
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Perubahan tertunda ditampilkan di halaman iniBelum Diperiksa
Langsung ke: navigasi, cari
Monumen Nasional
Monumen Nasional
Bangunan
Letak Jakarta Pusat, Indonesia
Pembangunan
Dimulai 17 Agustus 1961
Tinggi 132 m
Kontraktor utama P.N. Adhi Karya
(foundation piles)
Tim Perancang
Arsitek Frederich Silaban,
R.M. Soedarsono
Monumen Nasional atau yang populer disingkat dengan Monas atau Tugu Monas adalah salah satu dari monumen peringatan yang didirikan untuk mengenang perlawanan dan perjuangan rakyat Indonesia melawan penjajah Belanda.
Daftar isi
[sembunyikan]
* 1 Sejarah
* 2 Konstruksi dan Pameran
* 3 Ringkasan
* 4 Pranala luar
[sunting] Sejarah
Berkas:Jakarta - Monumen Nasional.jpg
Monumen Nasional dilihat dengan 3d Building salah satu fitur Google Earth
Monumen Nasional yang terletak di Lapangan Monas, Jakarta Pusat, dibangun pada dekade 1920an.
Tugu Peringatan Nasional dibangun di areal seluas 80 hektar. Tugu ini diarsiteki oleh Friedrich Silaban dan R. M. Soedarsono, mulai dibangun 17 Agustus 1961, dan diresmikan 12 Juli 1975 oleh Presiden Republik Indonesia Soeharto.
Pembangunan tugu Monas bertujuan mengenang dan melestarikan perjuangan bangsa Indonesia pada masa revolusi kemerdekaan 1945, agar terbangkitnya inspirasi dan semangat patriotisme generasi saat ini dan mendatang.
Tugu Monas yang menjulang tinggi dan melambangkan lingga (alu atau anatan) yang penuh dimensi khas budaya bangsa Indonesia. Semua pelataran cawan melambangkan Yoni (lumbung). Alu dan lumbung merupakan alat rumah tangga yang terdapat hampir di setiap rumah penduduk pribumi Indonesia.
Lapangan Monas mengalami lima kali penggantian nama yaitu Lapangan Gambir, Lapangan Ikada, Lapangan Merdeka, Lapangan Monas, dan Taman Monas. Di sekeliling tugu terdapat taman, dua buah kolam dan beberapa lapangan terbuka tempat berolahraga. Pada hari-hari libur
[sunting] Konstruksi dan Pameran
Bentuk Tugu peringatan yang satu ini sangat unik. Sebuah batu obeliks yang terbuat dari marmer yang berbentuk lingga yoni simbol kesuburan ini tingginya 132 meter.
Di puncak Monumen Nasional terdapat cawan yang menopang berbentuk nyala obor perunggu yang beratnya mencapai 14,5 ton dan dilapisi emas 35 Kilogram. Lidah api atau obor ini sebagai simbol perjuangan rakyat Indonesia yang ingin meraih kemerdekaan.
Pelataran puncak dengan luas 11x11 dapat menampung sebanyak 50 pengunjung. Pada sekeliling badan elevator terdapat tangga darurat yang terbuat dari besi. Dari pelataran puncak tugu Monas, pengunjung dapat menikmati pemandangan seluruh penjuru kota Jakarta. Arah ke selatan berdiri dengan kokoh dari kejauhan Gunung Salak di wilayah kabupaten Bogor, Jawa Barat, arah utara membentang laut lepas dengan pulau-pulau kecil berserakan. Bila menoleh ke Barat membentang Bandara Soekarno-Hatta yang setiap waktu terlihat pesawat lepas landas.
Dari pelataran puncak, 17 m lagi ke atas, terdapat lidah api, terbuat dari perunggu seberat 14,5 ton dan berdiameter 6 m, terdiri dari 77 bagian yang disatukan.
Pelataran puncak tugu berupa "Api Nan Tak Kunjung Padam" yang berarti melambangkan Bangsa Indonesia agar dalam berjuang tidak pernah surut sepanjang masa. Tinggi pelataran cawan dari dasar 17 m dan ruang museum sejarah 8 m. Luas pelataran yang berbentuk bujur sangkar, berukuran 45x45 m, merupakan pelestarian angka keramat Proklamasi Kemerdekaan RI (17-8-1945).
Pengunjung kawasan Monas, yang akan menaiki pelataran tugu puncak Monas atau museum, dapat melalui pintu masuk di seputar plaza taman Medan Merdeka, di bagian utara Taman Monas. Di dekatnya terdapat kolam air mancur dan patung Pangeran Diponegoro yang sedang menunggang kudanya, terbuat dari perunggu seberat 8 ton.
Patung itu dibuat oleh pemahat Italia, Prof. Coberlato sebagai sumbangan oleh Konsulat Jendral Honores, Dr Mario Bross di Indonesia. Melalui terowongan yang berada 3 m di bawah taman dan jalan silang Monas inilah, pintu masuk pengunjung ke tugu puncak Monas yang berpagar "Bambu Kuning".
Landasan dasar Monas setinggi 3 m, di bawahnya terdapat ruang museum sejarah perjuangan nasional dengan ukuran luas 80x80 m, dapat menampung pengunjung sekitar 500 orang.
Pada keempat sisi ruangan terdapat 12 jendela peragaan yang mengabdikan peristiwa sejak zaman kehidupan nenek moyang bangsa Indonesia. Keseluruhan dinding, tiang dan lantai berlapis marmer. Selain itu, ruang kemerdekaan berbentuk amphitheater yang terletak di dalam cawan tugu Monas, menggambarkan atribut peta kepulauan Negara Kesatuan Republik Indonesia, Kemerdekaan RI, bendera merah putih dan lambang negara dan pintu gapura yang bertulis naskah Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia.
Di dalam bangunan Monumen Nasional ini juga terdapat museum dan aula untuk bermeditasi. Para pengunjung dapat naik hingga ke atas dengan menggunakan elevator. Dari atau Monumen Nasional dapat dilihat kota Jakarta dari puncak monumen. Monumen dan museum ini dibuka setiap hari, mulai pukul 09.00 - 16.00 Waktu Indonesia Barat..
[sunting] Ringkasan
Seluruh isi monas tingginya 132 m. Lidah api di atasnya tingginya 14 m, lantai 3 di monas tingginya 115 m diatas permukaan tanah. Di dalam monas terdapat 51 diorama. Diorama adalah bahasa Sangsekerta yang berarti dio: dalam, rama: gambar. Jadi, diorama berarti gambar di dalam. Biaya pembangunan monas adalah 7 Miliar rupiah dan blia di jual, lidah apinya, bisa mencapai 14 juta rupiah. Monas sampai saat ini belum di resmikan tetapi dibuka untuk umum pada 12 Juni 1975 oleh Gubernur DKI Jakarta : Ali Sadikin.
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Perubahan tertunda ditampilkan di halaman iniBelum Diperiksa
Langsung ke: navigasi, cari
Monumen Nasional
Monumen Nasional
Bangunan
Letak Jakarta Pusat, Indonesia
Pembangunan
Dimulai 17 Agustus 1961
Tinggi 132 m
Kontraktor utama P.N. Adhi Karya
(foundation piles)
Tim Perancang
Arsitek Frederich Silaban,
R.M. Soedarsono
Monumen Nasional atau yang populer disingkat dengan Monas atau Tugu Monas adalah salah satu dari monumen peringatan yang didirikan untuk mengenang perlawanan dan perjuangan rakyat Indonesia melawan penjajah Belanda.
Daftar isi
[sembunyikan]
* 1 Sejarah
* 2 Konstruksi dan Pameran
* 3 Ringkasan
* 4 Pranala luar
[sunting] Sejarah
Berkas:Jakarta - Monumen Nasional.jpg
Monumen Nasional dilihat dengan 3d Building salah satu fitur Google Earth
Monumen Nasional yang terletak di Lapangan Monas, Jakarta Pusat, dibangun pada dekade 1920an.
Tugu Peringatan Nasional dibangun di areal seluas 80 hektar. Tugu ini diarsiteki oleh Friedrich Silaban dan R. M. Soedarsono, mulai dibangun 17 Agustus 1961, dan diresmikan 12 Juli 1975 oleh Presiden Republik Indonesia Soeharto.
Pembangunan tugu Monas bertujuan mengenang dan melestarikan perjuangan bangsa Indonesia pada masa revolusi kemerdekaan 1945, agar terbangkitnya inspirasi dan semangat patriotisme generasi saat ini dan mendatang.
Tugu Monas yang menjulang tinggi dan melambangkan lingga (alu atau anatan) yang penuh dimensi khas budaya bangsa Indonesia. Semua pelataran cawan melambangkan Yoni (lumbung). Alu dan lumbung merupakan alat rumah tangga yang terdapat hampir di setiap rumah penduduk pribumi Indonesia.
Lapangan Monas mengalami lima kali penggantian nama yaitu Lapangan Gambir, Lapangan Ikada, Lapangan Merdeka, Lapangan Monas, dan Taman Monas. Di sekeliling tugu terdapat taman, dua buah kolam dan beberapa lapangan terbuka tempat berolahraga. Pada hari-hari libur
[sunting] Konstruksi dan Pameran
Bentuk Tugu peringatan yang satu ini sangat unik. Sebuah batu obeliks yang terbuat dari marmer yang berbentuk lingga yoni simbol kesuburan ini tingginya 132 meter.
Di puncak Monumen Nasional terdapat cawan yang menopang berbentuk nyala obor perunggu yang beratnya mencapai 14,5 ton dan dilapisi emas 35 Kilogram. Lidah api atau obor ini sebagai simbol perjuangan rakyat Indonesia yang ingin meraih kemerdekaan.
Pelataran puncak dengan luas 11x11 dapat menampung sebanyak 50 pengunjung. Pada sekeliling badan elevator terdapat tangga darurat yang terbuat dari besi. Dari pelataran puncak tugu Monas, pengunjung dapat menikmati pemandangan seluruh penjuru kota Jakarta. Arah ke selatan berdiri dengan kokoh dari kejauhan Gunung Salak di wilayah kabupaten Bogor, Jawa Barat, arah utara membentang laut lepas dengan pulau-pulau kecil berserakan. Bila menoleh ke Barat membentang Bandara Soekarno-Hatta yang setiap waktu terlihat pesawat lepas landas.
Dari pelataran puncak, 17 m lagi ke atas, terdapat lidah api, terbuat dari perunggu seberat 14,5 ton dan berdiameter 6 m, terdiri dari 77 bagian yang disatukan.
Pelataran puncak tugu berupa "Api Nan Tak Kunjung Padam" yang berarti melambangkan Bangsa Indonesia agar dalam berjuang tidak pernah surut sepanjang masa. Tinggi pelataran cawan dari dasar 17 m dan ruang museum sejarah 8 m. Luas pelataran yang berbentuk bujur sangkar, berukuran 45x45 m, merupakan pelestarian angka keramat Proklamasi Kemerdekaan RI (17-8-1945).
Pengunjung kawasan Monas, yang akan menaiki pelataran tugu puncak Monas atau museum, dapat melalui pintu masuk di seputar plaza taman Medan Merdeka, di bagian utara Taman Monas. Di dekatnya terdapat kolam air mancur dan patung Pangeran Diponegoro yang sedang menunggang kudanya, terbuat dari perunggu seberat 8 ton.
Patung itu dibuat oleh pemahat Italia, Prof. Coberlato sebagai sumbangan oleh Konsulat Jendral Honores, Dr Mario Bross di Indonesia. Melalui terowongan yang berada 3 m di bawah taman dan jalan silang Monas inilah, pintu masuk pengunjung ke tugu puncak Monas yang berpagar "Bambu Kuning".
Landasan dasar Monas setinggi 3 m, di bawahnya terdapat ruang museum sejarah perjuangan nasional dengan ukuran luas 80x80 m, dapat menampung pengunjung sekitar 500 orang.
Pada keempat sisi ruangan terdapat 12 jendela peragaan yang mengabdikan peristiwa sejak zaman kehidupan nenek moyang bangsa Indonesia. Keseluruhan dinding, tiang dan lantai berlapis marmer. Selain itu, ruang kemerdekaan berbentuk amphitheater yang terletak di dalam cawan tugu Monas, menggambarkan atribut peta kepulauan Negara Kesatuan Republik Indonesia, Kemerdekaan RI, bendera merah putih dan lambang negara dan pintu gapura yang bertulis naskah Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia.
Di dalam bangunan Monumen Nasional ini juga terdapat museum dan aula untuk bermeditasi. Para pengunjung dapat naik hingga ke atas dengan menggunakan elevator. Dari atau Monumen Nasional dapat dilihat kota Jakarta dari puncak monumen. Monumen dan museum ini dibuka setiap hari, mulai pukul 09.00 - 16.00 Waktu Indonesia Barat..
[sunting] Ringkasan
Seluruh isi monas tingginya 132 m. Lidah api di atasnya tingginya 14 m, lantai 3 di monas tingginya 115 m diatas permukaan tanah. Di dalam monas terdapat 51 diorama. Diorama adalah bahasa Sangsekerta yang berarti dio: dalam, rama: gambar. Jadi, diorama berarti gambar di dalam. Biaya pembangunan monas adalah 7 Miliar rupiah dan blia di jual, lidah apinya, bisa mencapai 14 juta rupiah. Monas sampai saat ini belum di resmikan tetapi dibuka untuk umum pada 12 Juni 1975 oleh Gubernur DKI Jakarta : Ali Sadikin.
Diposting oleh
dewi sherina
on Senin, 30 Agustus 2010
/
Comments: (0)
Taman Laut Bunaken, Kota Manado, Sulawesi Utara
Jumat, Agustus 14, 2009 Diposkan oleh Pahlawan Bertopeng 212
Label: Sulawesi Utara
Secara keseluruhan, Taman Laut Nasional Bunaken meliputi area seluas 75.255 hektar dan terdiri dari lima pulau, yakni Pulau Manado Tua, Pulau Bunaken, Pulau Siladen, Pulau Mantehage berikut beberapa anak pulaunya, dan Pulau Naen. Kelima pulau tersebut memiliki jumlah populasi lebih dari 21.000 jiwa.
Kawasan Bunaken secara geografis masuk dalam perairan "Segi tiga emas" dimana kawasan ini menjadi habitat lebih dari 3.000 spesies ikan. Perairan "Segi tiga emas" yang dimaksud ialah perairan yang menghubungkan Laut Papua, Filipina, dan Indonesia. Lantaran kekayaan yang terkandung di dalamnya, pemerintah dan organisasi non pemerintah (nasional maupun internasional) bekerja sama untuk menjalankan program konservasi terumbu karang dan mangrove di kawasan Bunaken. Program konservasi terumbu karang ini bertujuan untuk menjaga ribuan jenis ikan laut dari kepunahan.
Melihat potensi alam dan juga aktivitas konservasi ekologi laut di kawasan ini, maka pemerintah setempat yakni Kota Manado menggagas kawasan Bunaken sebagai objek wisata bahari dan pendidikan. Aspek keindahan alam di laut dan edukasi menjadi menu utama berwisata di Taman Laut Nasional Bunaken. Oleh karenanya, kawasan Bunaken diresmikan sebagai taman laut nasional oleh Menteri Kelautan pada tahun 1991.
Keistimewaan
Hampir bisa dipastikan bahwa wisatawan akan menyempatkan diri mengunjungi Taman Laut Nasional Bunaken ketika berlibur ke Manado, Sulawesi Utara. Kendati kawasan taman laut ini memiliki gugusan yang terdiri atas lima pulau, Pulau Bunaken-lah yang paling tersohor.
Bunaken ialah sebuah pulau seluas kurang lebih 8 kilometer persegi di Teluk Manado. Pulau ini merupakan bagian dari Kota Manado, ibukota Propinsi Sulawesi Utara. Di sekitar Pulau Bunaken, terdapat taman laut Bunaken yang merupakan bagian dari Taman Nasional Kelautan Manado Tua dimana ia menjadi salah satu taman laut yang memiliki biodiversitas kelautan tertinggi di dunia. Oleh karenanya, fasilitas selam scuba (scuba diving) dapat menarik banyak wisatawan ke pulau ini. Meskipun meliputi area seluas 75.265 hektar, lokasi penyelaman hanya terbatas di sekitar pantai-pantai yang mengelilingi kelima pulau tersebut. Petugas taman laut melarang pengunjung menyelam sampai ke tengah laut karena dikhawatirkan akan lepas dari pantauan petugas pantai.
Kini, Bunaken mempunyai sedikitnya 40 tempat penyelaman yang kaya akan ikan-ikan tropis dan terumbu karang. Pengunjung dapat menyelam dan menyaksikan 150 spesies dari 58 genus ikan-ikan serta terumbu karang di kawasan Taman Laut Nasional Bunaken. Dijamin penyelam akan takjub dengan kekayaan taman laut ini.
Taman Laut Nasional Bunaken memiliki 20 titik penyelaman (dive spot) dengan kedalaman bervariasi hingga 1.344 meter. Dari 20 titik selam itu, 12 titik selam diantaranya berada di sekitar Pulau Bunaken. Dua belas titik penyelaman inilah yang paling kerap dikunjungi oleh penyelam dan pecinta keindahan pemandangan bawah laut.
Sebagian besar dari 12 titik penyelaman di Pulau Bunaken berjajar dari bagian tenggara hingga bagian barat laut. Di wilayah inilah terdapat underwater great walls atau yang disebut juga hanging walls atau dinding-dinding karang raksasa yang berdiri vertikal dan melengkung ke atas. Dinding karang ini juga menjadi sumber makanan bagi ikan-ikan di perairan sekitar Pulau Bunaken. Fenomena alam laut yang ada di Bunaken, hampir pasti tidak bisa ditemukan di taman laut lain. Berwisata di taman laut ini baik untuk perkembangan pengetahuan orang dewasa dan anak-anak tentang alam laut.
Selain kemasyhuran pesona dalam laut, pulau-pulau di kawasan taman nasional ini menghadirkan suasana natural. Pengunjung dapat bercengkerama bersama keluarga maupun orang terkasih pada sore hari di pinggir pantai dimana sang surya tidak lagi memancarkan panas sinarnya sembari menikmati sajian masakan favorit yang dapat dipesan di restoran di resort yang pengunjung pilih.
Lokasi
Pulau Bunaken berada di perairan Laut Sulawesi. Taman Laut Nasional Bunaken berada di sekitar pulau itu, yakni di sebelah utara Teluk Manado yang masih dalam wilayah administrasi pemerintah Kota Manado, Propinsi Sulawesi Utara, Indonesia.
Akses
Taman laut ini terletak sekitar 5000 kaki atau 1,5 kilometer dari Kota Manado. Menuju ke taman laut ini pengunjung harus menggunakan perahu motor dari tepian pantai di Teluk Kota Manado. Biaya menyewa perahu motor ini relatif murah, kendati harga yang ditawarkan beragam.
Harga Tiket Masuk
Pengunjung yang akan masuk kawasan Taman Laut Bunaken dikenakan tiket sekali masuk sebesar Rp 50.000 tiap orangnya. Biaya ini berlaku bagi yang ingin menyelam dan tidak. Selain itu, ditawarkan pula tiket yang berlaku untuk satu tahun sebesar Rp 150.000. Bila pengunjung membeli tiket masuk satu tahun, maka akan diberikan semacam lencana dari plastik sebagai tanda masuk.
Akomodasi dan Fasilitas Lainnya
Wisatawan dapat menemui dan memilih langsung tempat menginap dari berbagai resort maupun homestay yang ada di sekitar lokasi. Terdapat pula jasa penyewaan alat selam dan instrukturnya. Instruktur diving yang disediakan menguasai bahasa Inggris, Jerman, Belanda dan Perancis. Di kawasan ini, kolam renang, hot shower, dan restoran tidak sulit didapatkan.
Jumat, Agustus 14, 2009 Diposkan oleh Pahlawan Bertopeng 212
Label: Sulawesi Utara
Secara keseluruhan, Taman Laut Nasional Bunaken meliputi area seluas 75.255 hektar dan terdiri dari lima pulau, yakni Pulau Manado Tua, Pulau Bunaken, Pulau Siladen, Pulau Mantehage berikut beberapa anak pulaunya, dan Pulau Naen. Kelima pulau tersebut memiliki jumlah populasi lebih dari 21.000 jiwa.
Kawasan Bunaken secara geografis masuk dalam perairan "Segi tiga emas" dimana kawasan ini menjadi habitat lebih dari 3.000 spesies ikan. Perairan "Segi tiga emas" yang dimaksud ialah perairan yang menghubungkan Laut Papua, Filipina, dan Indonesia. Lantaran kekayaan yang terkandung di dalamnya, pemerintah dan organisasi non pemerintah (nasional maupun internasional) bekerja sama untuk menjalankan program konservasi terumbu karang dan mangrove di kawasan Bunaken. Program konservasi terumbu karang ini bertujuan untuk menjaga ribuan jenis ikan laut dari kepunahan.
Melihat potensi alam dan juga aktivitas konservasi ekologi laut di kawasan ini, maka pemerintah setempat yakni Kota Manado menggagas kawasan Bunaken sebagai objek wisata bahari dan pendidikan. Aspek keindahan alam di laut dan edukasi menjadi menu utama berwisata di Taman Laut Nasional Bunaken. Oleh karenanya, kawasan Bunaken diresmikan sebagai taman laut nasional oleh Menteri Kelautan pada tahun 1991.
Keistimewaan
Hampir bisa dipastikan bahwa wisatawan akan menyempatkan diri mengunjungi Taman Laut Nasional Bunaken ketika berlibur ke Manado, Sulawesi Utara. Kendati kawasan taman laut ini memiliki gugusan yang terdiri atas lima pulau, Pulau Bunaken-lah yang paling tersohor.
Bunaken ialah sebuah pulau seluas kurang lebih 8 kilometer persegi di Teluk Manado. Pulau ini merupakan bagian dari Kota Manado, ibukota Propinsi Sulawesi Utara. Di sekitar Pulau Bunaken, terdapat taman laut Bunaken yang merupakan bagian dari Taman Nasional Kelautan Manado Tua dimana ia menjadi salah satu taman laut yang memiliki biodiversitas kelautan tertinggi di dunia. Oleh karenanya, fasilitas selam scuba (scuba diving) dapat menarik banyak wisatawan ke pulau ini. Meskipun meliputi area seluas 75.265 hektar, lokasi penyelaman hanya terbatas di sekitar pantai-pantai yang mengelilingi kelima pulau tersebut. Petugas taman laut melarang pengunjung menyelam sampai ke tengah laut karena dikhawatirkan akan lepas dari pantauan petugas pantai.
Kini, Bunaken mempunyai sedikitnya 40 tempat penyelaman yang kaya akan ikan-ikan tropis dan terumbu karang. Pengunjung dapat menyelam dan menyaksikan 150 spesies dari 58 genus ikan-ikan serta terumbu karang di kawasan Taman Laut Nasional Bunaken. Dijamin penyelam akan takjub dengan kekayaan taman laut ini.
Taman Laut Nasional Bunaken memiliki 20 titik penyelaman (dive spot) dengan kedalaman bervariasi hingga 1.344 meter. Dari 20 titik selam itu, 12 titik selam diantaranya berada di sekitar Pulau Bunaken. Dua belas titik penyelaman inilah yang paling kerap dikunjungi oleh penyelam dan pecinta keindahan pemandangan bawah laut.
Sebagian besar dari 12 titik penyelaman di Pulau Bunaken berjajar dari bagian tenggara hingga bagian barat laut. Di wilayah inilah terdapat underwater great walls atau yang disebut juga hanging walls atau dinding-dinding karang raksasa yang berdiri vertikal dan melengkung ke atas. Dinding karang ini juga menjadi sumber makanan bagi ikan-ikan di perairan sekitar Pulau Bunaken. Fenomena alam laut yang ada di Bunaken, hampir pasti tidak bisa ditemukan di taman laut lain. Berwisata di taman laut ini baik untuk perkembangan pengetahuan orang dewasa dan anak-anak tentang alam laut.
Selain kemasyhuran pesona dalam laut, pulau-pulau di kawasan taman nasional ini menghadirkan suasana natural. Pengunjung dapat bercengkerama bersama keluarga maupun orang terkasih pada sore hari di pinggir pantai dimana sang surya tidak lagi memancarkan panas sinarnya sembari menikmati sajian masakan favorit yang dapat dipesan di restoran di resort yang pengunjung pilih.
Lokasi
Pulau Bunaken berada di perairan Laut Sulawesi. Taman Laut Nasional Bunaken berada di sekitar pulau itu, yakni di sebelah utara Teluk Manado yang masih dalam wilayah administrasi pemerintah Kota Manado, Propinsi Sulawesi Utara, Indonesia.
Akses
Taman laut ini terletak sekitar 5000 kaki atau 1,5 kilometer dari Kota Manado. Menuju ke taman laut ini pengunjung harus menggunakan perahu motor dari tepian pantai di Teluk Kota Manado. Biaya menyewa perahu motor ini relatif murah, kendati harga yang ditawarkan beragam.
Harga Tiket Masuk
Pengunjung yang akan masuk kawasan Taman Laut Bunaken dikenakan tiket sekali masuk sebesar Rp 50.000 tiap orangnya. Biaya ini berlaku bagi yang ingin menyelam dan tidak. Selain itu, ditawarkan pula tiket yang berlaku untuk satu tahun sebesar Rp 150.000. Bila pengunjung membeli tiket masuk satu tahun, maka akan diberikan semacam lencana dari plastik sebagai tanda masuk.
Akomodasi dan Fasilitas Lainnya
Wisatawan dapat menemui dan memilih langsung tempat menginap dari berbagai resort maupun homestay yang ada di sekitar lokasi. Terdapat pula jasa penyewaan alat selam dan instrukturnya. Instruktur diving yang disediakan menguasai bahasa Inggris, Jerman, Belanda dan Perancis. Di kawasan ini, kolam renang, hot shower, dan restoran tidak sulit didapatkan.
Diposting oleh
dewi sherina
/
Comments: (0)
Fenomena Crop Circle
Created : Ezha_cuTe
Senin, 10 Mei 2010
Crop circle is Back! Setelah ditunggu-tunggu, crop circle pertama di tahun 2010 akhirnya muncul di Old Sarum, Nr Salisbury, Wiltshire, pada tanggal 05 Mei 2010. Crop circle ini sepertinya akan menjadi pertanda dimulainya musim kemunculan crop circle di Inggris.
Continue Reading
16 komentar:
You might also like:
*Mengungkap Fenomena Ice Circle*Apabila kamu melihat sebuah
Fenomena yang terkait dengan BETA
Kehidupan di Bulan
LinkWithin
Mitos Tentang Petir
Created : Ezha_cuTe
Jumat, 07 Mei 2010
1. Petir Hanya Menyambar Saat Hujan
Petir dapat menyambar sebelum, pada saat, atau setelah hujan. Bahkan, petir kerap muncul di langit biru pada cuaca cerah.
2. Petir Tidak Pernah Menyambar Tempat yang Sama Dua Kali
Petir sering menyambar tempat yang sama berulang-ulang, terutama tempat tinggi dan berujung lancip, seperti beberapa gedung pencakar langit.
3. Ban Karet Melindungi Anda
Mobil adalah salah satu tempat yang aman pada saat terjadi petir menyambar. Namun, itu bukan karena ban mobil. Bodi berbahan metal di luar mobil menghantar aliran listrik di luar mobil. Untuk berjaga-jaga, selalu pastikan jendela mobil tertutup rapat.
Continue Reading
8 komentar:
You might also like:
Foo Fighter
Kisah Bayi Dari Dalam Tanah
BETA
LinkWithin
Misteri Lampu Abadi
Created : Ezha_cuTe
Senin, 03 Mei 2010
Seorang sarjana Australia Robbert Briggen, berpendapat bahwa manusia jaman prasejarah itu memiliki intelegensi yang lebih maju daripada ilmu pengetahuan yang kita miliki karena mereka memiliki lampu-lampu abadi.
Pada bulan April 1485 mayat seorang gadis bangsawan dari zaman yunani kuno dikeluarkan dari tempat perkuburannya di “Appian Way”. Ketika para penyelidik memasuki tempat pemakamannya, mereka terkejut menemukan sebuah lampu yang menyala sejak 1.500 tahun yang lalu.
Continue Reading
12 komentar:
Created : Ezha_cuTe
Senin, 10 Mei 2010
Crop circle is Back! Setelah ditunggu-tunggu, crop circle pertama di tahun 2010 akhirnya muncul di Old Sarum, Nr Salisbury, Wiltshire, pada tanggal 05 Mei 2010. Crop circle ini sepertinya akan menjadi pertanda dimulainya musim kemunculan crop circle di Inggris.
Continue Reading
16 komentar:
You might also like:
*Mengungkap Fenomena Ice Circle*Apabila kamu melihat sebuah
Fenomena yang terkait dengan BETA
Kehidupan di Bulan
LinkWithin
Mitos Tentang Petir
Created : Ezha_cuTe
Jumat, 07 Mei 2010
1. Petir Hanya Menyambar Saat Hujan
Petir dapat menyambar sebelum, pada saat, atau setelah hujan. Bahkan, petir kerap muncul di langit biru pada cuaca cerah.
2. Petir Tidak Pernah Menyambar Tempat yang Sama Dua Kali
Petir sering menyambar tempat yang sama berulang-ulang, terutama tempat tinggi dan berujung lancip, seperti beberapa gedung pencakar langit.
3. Ban Karet Melindungi Anda
Mobil adalah salah satu tempat yang aman pada saat terjadi petir menyambar. Namun, itu bukan karena ban mobil. Bodi berbahan metal di luar mobil menghantar aliran listrik di luar mobil. Untuk berjaga-jaga, selalu pastikan jendela mobil tertutup rapat.
Continue Reading
8 komentar:
You might also like:
Foo Fighter
Kisah Bayi Dari Dalam Tanah
BETA
LinkWithin
Misteri Lampu Abadi
Created : Ezha_cuTe
Senin, 03 Mei 2010
Seorang sarjana Australia Robbert Briggen, berpendapat bahwa manusia jaman prasejarah itu memiliki intelegensi yang lebih maju daripada ilmu pengetahuan yang kita miliki karena mereka memiliki lampu-lampu abadi.
Pada bulan April 1485 mayat seorang gadis bangsawan dari zaman yunani kuno dikeluarkan dari tempat perkuburannya di “Appian Way”. Ketika para penyelidik memasuki tempat pemakamannya, mereka terkejut menemukan sebuah lampu yang menyala sejak 1.500 tahun yang lalu.
Continue Reading
12 komentar:
Diposting oleh
dewi sherina
/
Comments: (0)
BUDAYA MESIR YANG ADILUHUNG
Harus diakui bahwa Mesir memang memiliki sejarahnya sendiri. Negeri ini begitu kaya dengan peninggalan sejarah yang sungguh tidak kalah dengan negeri-negeri lain bahkan jauh lebih unggul. Bentangan peristiwa historis itu terdapat di mana-mana. Makanya Mesir bisa disebut sebagai negeri dongeng atau negeri sejarah. Begitu banya peninggalan sejarah yang bisa dilacak hingga tahun sebelum masehi. Mulai dari masa prasejarah sampai menjadi negeri modern. Jadi Mesir merupakan negeri dengan tujuan wisata yang sangat komplit, mulai dari wisata ritual hingga wisata pra sejarah. Semuanya ada. Pantaslah jika jumlah wisatawan asing yang datang ke Mesir mencapai 14 juta orang setiap tahun. Mereka datang dari seluruh pelosok penjuru dunia. Tidak lain adalah ingin melihat kehebatan Orang Mesir di masa lalu hingga sekarang.
Pada hari kedua kunjungan saya ke Mesir, maka saya manfaatkan untuk melihat Mesir masa lalu. Monumen Mesir yang didirikan oleh Bangsa Perancis dan diperbaharui oleh Muhammad Ali tahun 1897 M dan selesai tahun 1901 M sungguh menyajikan kehebatan bangsa Mesir di era lalu. Di Museum ini disajikan berbagai benda sejarah masa lalu. Ada sebanyak 12 mummi dari tahun 1600 SM sampai tahun 1200 SM. Raja-raja Mesir seperti Ramses I dan II serta lainnya ternyata jasadnya masih utuh. Demikian tinggi teknologi pengawetan mayat itu hingga sekarang. Pantaslah jika banyak ahli antropologi fisik yang terkagum-kagum dengan temuan yang spektakular tersebut.
Ternyata bahwa kita memang harus mengagumi teknologi orang-orang dulu. Teknologi pembuatan perhiasan dari emas dan perak juga luar biasa. Cincin, gelang, kalung, liontin, broz, perhiasan lainnya ternyata sangat indah. Mahkota raja dan peralatan kelengkapan raja juga dibuat dengan sangat canggih. Jika sekarang kita mengagumi teknologi pembuatan perhiasan, maka di zaman pra sejarah ternyata juga sudah sangat tinggi. Perhiasan emas bertatahkan berlian warna-warni dan juga perhiasan khas raja-raja Mesir dibuat dengan sangat indah. Teknologi peralatan dari kayu dan tembikar juga sangat menakjubkan. Anyaman tembikar sudah sedemikian bagusnya. Sungguh tidak kalah dengan teknologi anyaman yang berkembang sekarang. Ketika saya memperhatikan teknologi anyaman itu, maka muncul rasa kekaguman bahwa teknologi masa lalu ternyata sangat adiluhung. Ukiran kayu juga tidak kalah dengan ukiran kayu sekarang. Motif dan coraknya sangat variatif. Kehalusan dan kerapiannya juga tidak tertandingi. Teknologi batu juga sangat baik. Patung-patung Dewa Mesir dibuat dan diukir dengan sangat menakjubkan. Ada yang ukuran kecil dan besar. Demikian pula kendaraan yang ditarik oleh kuda atau keledai –di Yogyakarta disebut delman—juga sudah sangat maju. Makanya, jika orang sekarang menyombongkan teknologi kayu, emas, anyaman dan sebagainya rasanya memang harus melihat dulu teknologi masa lalu, terutama di Mesir kuno. Jika ingin tuntas melihat hasil cipta, rasa dan karsa manusia masa lalu, maka seharusnya satu hari penuh. Jadi bisa bercengkerama dengan produk masa lalu tersebut secara menyeluruh. Sayangnya saya hanya dua jam saja sebab harus segera ek Universtas Al Azhar dalam muhibah ilmiah di sana.
Saya datang lebih cepat satu jam dari jam yang ditentukan oleh Universitas. Kemudian, saya bertemu dengan Wakil Rektor Bidang akademik dan kemahasiswaan, Prof. Dr. Abdullah Husni Hilal dan ditemani oleh staf bidang kerjasama. Dari kedutaan Besar Indonesia di Mesir datang Pak Muhlason. Sementara saya, Prof. Saiful Anam, Prof. Abdul A’la, Prof. Abdul Haris dan Ahmad Zaini hadir di ruang Rektor I tersebut. Karena Prof. Saiful yang paling bagus bahasa Arab amiyahnya, maka beliaulah yang menjadi juru bicara mewakili IAIN Sunan Ampel. Intinya, bahwa IAIN Sunan Ampel menghendaki ada Memory of Understanding (MoU) untuk pengiriman tenaga dosen Bahasa Arab, kemudian review kurikulum dan program kunjungan ilmiah. Sayangnya bahwa untuk penandatangan MoU harus melewati proses birokrasi yang cukup rumit. Meskipun demikian, Prof. Abdullah Husni menyambut baik keinginan melakukan kerjasama dalam bidang-bidang tersebut. Memang butuh waktu untuk melakukan penandatangan MoU.
Saya dan kawan-kawan kemudian makan di Restoran dan Cafe Soiree Gohar Group. Restoran ini dipenuhi oleh pembeli dari berbagai bangsa. Rupanya, banyak biro travel yang bekerjasama dengan restoran ini. Dengan 75 Lira Mesir (pon) maka bisa saja orang mengambil makanan apa saja yang disediakan di sini. Sajian model buffee, sehingga orang bisa mengambil makanan seperti nasi goreng, nasi putih, bubur khas Mesir, sayuran dan ikan ayam atau daging dan dapat dimakan secukupnya.
Wisata Ziarah juga tidak kalah dengan tempat lainnya. Masjid Sultan Hasan, misalnya didirikan tahun 1356 M atau 757 H. Masjid ini juga dihiasi ornamen yang sangat indah. Di Masjid ini terdapat empat ruangan yang dulu digunakan untuk menampung jamaah pengajian dari empat madzab. Jika ada orang yang menginginkan mengaji sesuai dengan madzab Syafii, maka dia akan datang ke situ. Demikian pula penganut madzab Hambali, Maliki, Hanafi. Dalam masjid ini ada seorang imam yang selalu siap untuk melayani konsultasi agama dalam bahasa Inggris. Dia berperan sebagai mu’adzin setiap waktu salat dan sekaligus imam shalat rawatib.
Menurut ukuran sekarang, di mana bangunan lebih bercorak minimalis, maka masjid Sultan Hasan ternyata memang berseni tinggi. Bangunannya yang tinggi menjulang dengan menara yang sangat indah menjadi ciri khas bangunan-bangunan masjid di Mesir. Saya sempat shalat jama’ qashar di masjid ini. Hanya saja lalu muncul pertanyaan, bagaimana para Sultan itu dapat membangun gedung-gedung sedemikian megah di masa itu, dan mengapa justru di era modern tidak banyak pemimpin yang dapat mewujudkan bangunan indah seperti itu. Bisa saja ada faktor politis yang mendukung terhadap hal ini. Kekuasaan Sultan yang otoriter tentu mendukung semua mimpi raja untuk dapat diwujudkan.
Di sebelahnya juga ada masjid yang juga sangat indah. Masjid Imam Rifa’i. Masjid ini didirikan pada tahun 1869 M atau tahun 1286 H. Masjid ini juga berornamen sangat indah. Bahkan orang menyatakan masjid kembar. Di dalamnya terdapat makam orang Suci, Imam Rifa’i dan juga beberapa lainnya. Sebagai mursyid agung tarekat Rifa’iyah, maka banyak peziarah yang melakukan ritual sesuai dengan keyakinannya. Misalnya melakukan penghormatan dengan mencium lantai di depan makam al-Imam. Makam itu juga dihias sangat indah. Tentu sebagai penghormatan terhadap kewalian sang Auliya.
Saya sungguh bersyukur bisa menikmati kekayaan budaya bangsa Mesir meskipun hanya selintas. Seandainya tidak diburu waktu harus melakukan kunjungan yang bercorak akademis, rasanya ingin menjejakkan kaki ke seluruh artefak budaya bangsa ini. Saya tentu menjadi yakin dengan kebenaran pendapat para pengkaji antropologi struktural, bahwa tidak ada sebuah bangsa yang dianggap tinggi atau rendah budayanya, sebab budaya memiliki kekhasan yang masing-masing memiliki keunggulannya. Dan bangsa Mesir sudah membuka mata kita, bahwa orang Kuno ternyata juga memiliki budaya yang luar biasa dilihat dari kurun waktu itu.
Wallahu a’lam bi al shawab.
Harus diakui bahwa Mesir memang memiliki sejarahnya sendiri. Negeri ini begitu kaya dengan peninggalan sejarah yang sungguh tidak kalah dengan negeri-negeri lain bahkan jauh lebih unggul. Bentangan peristiwa historis itu terdapat di mana-mana. Makanya Mesir bisa disebut sebagai negeri dongeng atau negeri sejarah. Begitu banya peninggalan sejarah yang bisa dilacak hingga tahun sebelum masehi. Mulai dari masa prasejarah sampai menjadi negeri modern. Jadi Mesir merupakan negeri dengan tujuan wisata yang sangat komplit, mulai dari wisata ritual hingga wisata pra sejarah. Semuanya ada. Pantaslah jika jumlah wisatawan asing yang datang ke Mesir mencapai 14 juta orang setiap tahun. Mereka datang dari seluruh pelosok penjuru dunia. Tidak lain adalah ingin melihat kehebatan Orang Mesir di masa lalu hingga sekarang.
Pada hari kedua kunjungan saya ke Mesir, maka saya manfaatkan untuk melihat Mesir masa lalu. Monumen Mesir yang didirikan oleh Bangsa Perancis dan diperbaharui oleh Muhammad Ali tahun 1897 M dan selesai tahun 1901 M sungguh menyajikan kehebatan bangsa Mesir di era lalu. Di Museum ini disajikan berbagai benda sejarah masa lalu. Ada sebanyak 12 mummi dari tahun 1600 SM sampai tahun 1200 SM. Raja-raja Mesir seperti Ramses I dan II serta lainnya ternyata jasadnya masih utuh. Demikian tinggi teknologi pengawetan mayat itu hingga sekarang. Pantaslah jika banyak ahli antropologi fisik yang terkagum-kagum dengan temuan yang spektakular tersebut.
Ternyata bahwa kita memang harus mengagumi teknologi orang-orang dulu. Teknologi pembuatan perhiasan dari emas dan perak juga luar biasa. Cincin, gelang, kalung, liontin, broz, perhiasan lainnya ternyata sangat indah. Mahkota raja dan peralatan kelengkapan raja juga dibuat dengan sangat canggih. Jika sekarang kita mengagumi teknologi pembuatan perhiasan, maka di zaman pra sejarah ternyata juga sudah sangat tinggi. Perhiasan emas bertatahkan berlian warna-warni dan juga perhiasan khas raja-raja Mesir dibuat dengan sangat indah. Teknologi peralatan dari kayu dan tembikar juga sangat menakjubkan. Anyaman tembikar sudah sedemikian bagusnya. Sungguh tidak kalah dengan teknologi anyaman yang berkembang sekarang. Ketika saya memperhatikan teknologi anyaman itu, maka muncul rasa kekaguman bahwa teknologi masa lalu ternyata sangat adiluhung. Ukiran kayu juga tidak kalah dengan ukiran kayu sekarang. Motif dan coraknya sangat variatif. Kehalusan dan kerapiannya juga tidak tertandingi. Teknologi batu juga sangat baik. Patung-patung Dewa Mesir dibuat dan diukir dengan sangat menakjubkan. Ada yang ukuran kecil dan besar. Demikian pula kendaraan yang ditarik oleh kuda atau keledai –di Yogyakarta disebut delman—juga sudah sangat maju. Makanya, jika orang sekarang menyombongkan teknologi kayu, emas, anyaman dan sebagainya rasanya memang harus melihat dulu teknologi masa lalu, terutama di Mesir kuno. Jika ingin tuntas melihat hasil cipta, rasa dan karsa manusia masa lalu, maka seharusnya satu hari penuh. Jadi bisa bercengkerama dengan produk masa lalu tersebut secara menyeluruh. Sayangnya saya hanya dua jam saja sebab harus segera ek Universtas Al Azhar dalam muhibah ilmiah di sana.
Saya datang lebih cepat satu jam dari jam yang ditentukan oleh Universitas. Kemudian, saya bertemu dengan Wakil Rektor Bidang akademik dan kemahasiswaan, Prof. Dr. Abdullah Husni Hilal dan ditemani oleh staf bidang kerjasama. Dari kedutaan Besar Indonesia di Mesir datang Pak Muhlason. Sementara saya, Prof. Saiful Anam, Prof. Abdul A’la, Prof. Abdul Haris dan Ahmad Zaini hadir di ruang Rektor I tersebut. Karena Prof. Saiful yang paling bagus bahasa Arab amiyahnya, maka beliaulah yang menjadi juru bicara mewakili IAIN Sunan Ampel. Intinya, bahwa IAIN Sunan Ampel menghendaki ada Memory of Understanding (MoU) untuk pengiriman tenaga dosen Bahasa Arab, kemudian review kurikulum dan program kunjungan ilmiah. Sayangnya bahwa untuk penandatangan MoU harus melewati proses birokrasi yang cukup rumit. Meskipun demikian, Prof. Abdullah Husni menyambut baik keinginan melakukan kerjasama dalam bidang-bidang tersebut. Memang butuh waktu untuk melakukan penandatangan MoU.
Saya dan kawan-kawan kemudian makan di Restoran dan Cafe Soiree Gohar Group. Restoran ini dipenuhi oleh pembeli dari berbagai bangsa. Rupanya, banyak biro travel yang bekerjasama dengan restoran ini. Dengan 75 Lira Mesir (pon) maka bisa saja orang mengambil makanan apa saja yang disediakan di sini. Sajian model buffee, sehingga orang bisa mengambil makanan seperti nasi goreng, nasi putih, bubur khas Mesir, sayuran dan ikan ayam atau daging dan dapat dimakan secukupnya.
Wisata Ziarah juga tidak kalah dengan tempat lainnya. Masjid Sultan Hasan, misalnya didirikan tahun 1356 M atau 757 H. Masjid ini juga dihiasi ornamen yang sangat indah. Di Masjid ini terdapat empat ruangan yang dulu digunakan untuk menampung jamaah pengajian dari empat madzab. Jika ada orang yang menginginkan mengaji sesuai dengan madzab Syafii, maka dia akan datang ke situ. Demikian pula penganut madzab Hambali, Maliki, Hanafi. Dalam masjid ini ada seorang imam yang selalu siap untuk melayani konsultasi agama dalam bahasa Inggris. Dia berperan sebagai mu’adzin setiap waktu salat dan sekaligus imam shalat rawatib.
Menurut ukuran sekarang, di mana bangunan lebih bercorak minimalis, maka masjid Sultan Hasan ternyata memang berseni tinggi. Bangunannya yang tinggi menjulang dengan menara yang sangat indah menjadi ciri khas bangunan-bangunan masjid di Mesir. Saya sempat shalat jama’ qashar di masjid ini. Hanya saja lalu muncul pertanyaan, bagaimana para Sultan itu dapat membangun gedung-gedung sedemikian megah di masa itu, dan mengapa justru di era modern tidak banyak pemimpin yang dapat mewujudkan bangunan indah seperti itu. Bisa saja ada faktor politis yang mendukung terhadap hal ini. Kekuasaan Sultan yang otoriter tentu mendukung semua mimpi raja untuk dapat diwujudkan.
Di sebelahnya juga ada masjid yang juga sangat indah. Masjid Imam Rifa’i. Masjid ini didirikan pada tahun 1869 M atau tahun 1286 H. Masjid ini juga berornamen sangat indah. Bahkan orang menyatakan masjid kembar. Di dalamnya terdapat makam orang Suci, Imam Rifa’i dan juga beberapa lainnya. Sebagai mursyid agung tarekat Rifa’iyah, maka banyak peziarah yang melakukan ritual sesuai dengan keyakinannya. Misalnya melakukan penghormatan dengan mencium lantai di depan makam al-Imam. Makam itu juga dihias sangat indah. Tentu sebagai penghormatan terhadap kewalian sang Auliya.
Saya sungguh bersyukur bisa menikmati kekayaan budaya bangsa Mesir meskipun hanya selintas. Seandainya tidak diburu waktu harus melakukan kunjungan yang bercorak akademis, rasanya ingin menjejakkan kaki ke seluruh artefak budaya bangsa ini. Saya tentu menjadi yakin dengan kebenaran pendapat para pengkaji antropologi struktural, bahwa tidak ada sebuah bangsa yang dianggap tinggi atau rendah budayanya, sebab budaya memiliki kekhasan yang masing-masing memiliki keunggulannya. Dan bangsa Mesir sudah membuka mata kita, bahwa orang Kuno ternyata juga memiliki budaya yang luar biasa dilihat dari kurun waktu itu.
Wallahu a’lam bi al shawab.
Diposting oleh
dewi sherina
/
Comments: (0)
ISLAM DAN BUDAYA MADURA1
Taufiqurrahman2
Abstrak:
Masyarakat Madura dikenal memiliki budaya yang khas, unik, stereo- tipikal, dan stigmatik. Identitas budayanya itu dianggap sebagai deskripsi dari generalisasi jatidiri individual maupun komunal etnik Madura dalam berperilaku dan berkehidupan. Kehidupan mereka di tempat asal maupun di perantauan kerapkali membawa─ dan senantiasa dipahami oleh komu- nitas etnik lain atas dasar─ identitas kolektifnya itu. Akibatnya, tidak ja- rang di antara mereka mendapat perlakuan sosial maupun kultural─ seca- ra fisik dan/atau psikis─ yang dirasakan tidak adil, bahkan tidak propor- sional dan di luar kewajaran.
Berbagai deskripsi perilakuabsurd orang-orang Madura terbiasa di- ungkap dan ditampilkan─ misalnya, dalam forum-forum pertemuan ko- munitas intelektual (well-educated)─ sehingga kian mengukuhkan generali- sasi identitas mereka dalam nuansa tersubordinasi, terhegemonik, dan te- ralienasi dari “pentas budaya” berbagai etnik lainnya sebagai elemen pembentuk budaya nasional. Kendati pun setiap etnik mempunyai ciri khas sebagai identitas komunalnya, namun identitas Madura dipandang lebih “marketable” daripada etnik lainnya untuk diungkap dan diperbin- cangkan, terutama untuk tujuan mencairkan suasana beku atau kondisi te- gang pada suatu forum pertemuan karena dipandang relatif mampu da- lam menghadirkan lelucon-segar (absurditas perilaku).
Dalam konteks religiusitas, masyarakat Madura dikenal memegang
kuat (memedomani) ajaran Islam dalam pola kehidupannya kendati pun
menyisakan “dilema,” untuk menyebut adanya deviasi/kontradiksi antara
ajaran Islam (formal dan substantif) dan pola perilaku sosiokultural dalam praksis keberagamaan mereka itu. Pengakuan bahwa Islam sebagai ajaran formal yang diyakini dan dipedomani dalam kehidupan individual etnik Madura itu ternyata tidak selalu menampakkan linieritas pada sikap, pen- dirian, dan pola perilaku mereka. Dilema praksis keberagamaan mereka itu, kiranya menjadi tema kajian menarik terutama untuk memahami seca- ra utuh, mendalam, dan komprehensif tentang etnografi Madura di satu sisi, dan keberhasilan penetrasi ajaran Islam pada komunitas etnik Madura yang oleh sebagian besar orang/etnik lain masih dipandang (diyakini?) te- lah mengalami internalisasi sosiokultural, di sisi lain. Pemahaman demi- kian diharapkan dapat memberi kontribusi yang bermakna terutama bagi kejernihan dan kecerahan pola pandang elemen warga-bangsa.
Taufiqurrahman2
Abstrak:
Masyarakat Madura dikenal memiliki budaya yang khas, unik, stereo- tipikal, dan stigmatik. Identitas budayanya itu dianggap sebagai deskripsi dari generalisasi jatidiri individual maupun komunal etnik Madura dalam berperilaku dan berkehidupan. Kehidupan mereka di tempat asal maupun di perantauan kerapkali membawa─ dan senantiasa dipahami oleh komu- nitas etnik lain atas dasar─ identitas kolektifnya itu. Akibatnya, tidak ja- rang di antara mereka mendapat perlakuan sosial maupun kultural─ seca- ra fisik dan/atau psikis─ yang dirasakan tidak adil, bahkan tidak propor- sional dan di luar kewajaran.
Berbagai deskripsi perilakuabsurd orang-orang Madura terbiasa di- ungkap dan ditampilkan─ misalnya, dalam forum-forum pertemuan ko- munitas intelektual (well-educated)─ sehingga kian mengukuhkan generali- sasi identitas mereka dalam nuansa tersubordinasi, terhegemonik, dan te- ralienasi dari “pentas budaya” berbagai etnik lainnya sebagai elemen pembentuk budaya nasional. Kendati pun setiap etnik mempunyai ciri khas sebagai identitas komunalnya, namun identitas Madura dipandang lebih “marketable” daripada etnik lainnya untuk diungkap dan diperbin- cangkan, terutama untuk tujuan mencairkan suasana beku atau kondisi te- gang pada suatu forum pertemuan karena dipandang relatif mampu da- lam menghadirkan lelucon-segar (absurditas perilaku).
Dalam konteks religiusitas, masyarakat Madura dikenal memegang
kuat (memedomani) ajaran Islam dalam pola kehidupannya kendati pun
menyisakan “dilema,” untuk menyebut adanya deviasi/kontradiksi antara
ajaran Islam (formal dan substantif) dan pola perilaku sosiokultural dalam praksis keberagamaan mereka itu. Pengakuan bahwa Islam sebagai ajaran formal yang diyakini dan dipedomani dalam kehidupan individual etnik Madura itu ternyata tidak selalu menampakkan linieritas pada sikap, pen- dirian, dan pola perilaku mereka. Dilema praksis keberagamaan mereka itu, kiranya menjadi tema kajian menarik terutama untuk memahami seca- ra utuh, mendalam, dan komprehensif tentang etnografi Madura di satu sisi, dan keberhasilan penetrasi ajaran Islam pada komunitas etnik Madura yang oleh sebagian besar orang/etnik lain masih dipandang (diyakini?) te- lah mengalami internalisasi sosiokultural, di sisi lain. Pemahaman demi- kian diharapkan dapat memberi kontribusi yang bermakna terutama bagi kejernihan dan kecerahan pola pandang elemen warga-bangsa.
Diposting oleh
dewi sherina
/
Comments: (0)
Budaya Melayu-Indonesia & Dunia oleh A. Kohar Ibrahim TOUTES les cultures sont liées les unes aux autres ; nulle n’est unique et pure, toutes sont hybrides, hétérogènes, extraordinairement différenciées et non monolithiques.Demikian tulis Edward Saïd, dalam makalahnya berjudul : « Culture et Impérialisme ». In Le Grand Soir Info 1.07.2007. Bahwa : « Semua Kebudayaan adalah saling berhubungan satu sama lain ; tak satupun yang unik dan murni, semua dalam ragam-macam, bercampur-bauran, memiliki ciri keragaman yang luarbiasa dan non-monolitis. » Benar memang benar dengan mudah saya membenarkan pendapat Edward Said tersebut. Baik dari pengetahuan yang saya peroleh secara tak langsung maupun yang secara langsung berupa pengalaman hidup sendiri, saya membenarkan kebenarannya yang hakiki. Sebagaimana juga saya membenarkan opini intelektual lainnya, yakni Mahmoud Darwich, berkenaan dengan Warisan Peradaban Umat Manusia. Yakni, bahwa « Warisan peradaban ummat manusia adalah satu : diperkaya dalam suatu proses yang panjang. » Opini mana saya jadikan salah satu sitiran andalan ketika menyusun makalah « Sekitar Tempuling » (Telaah Buku Kumpulan Sajak « Tempuling » Rida K Liamsi, Yayasan Sagang, Pekanbaru 2004). Juga manakala kami – saya dan Lisya Anggraini menyusun makalah yang kemudian pun dijadikan buku berjudul « Kepri Pulau Cinta Kasih » (Yayasan Titik Cahaya Elka, Batam, 2006). Tanpa pemahaman akan kesepahaman yang serupa baik seperti yang diungkapkan Edward Said maupun Mahmoud Darwich itu, maka sulitlah kiranya saya bisa menyusun berkas-berkas naskah esai seperti yang tersunting menjadi kedua buku tersebut di atas. Karena pemahaman itu sarat akan gerak dinamika hidup dan kehidupan budaya ummat manusia sejak zaman awal muawalnya hingga zaman kekinian. Dengan itu pun, bisalah memudahkan pemahaman baik berawal dari yang lokal, yang nasional, yang regional sampai yang internasional atau global. Baik berawal dari satu segi atau bagian ke segi-segi atau bagian-nagian kehidupan lainnya hingga menyeluruh keseluruhan. Maupun dengan cara-gaya kebalikannya : dari yang umum, yang universal, ke yang khusus atau ke bagian atau bagian-bagiannya. Begitulah, kongkretnya, ketika berhadapan pada perihal sekaligus persoalan Budaya Melayu di Kepulauan Riau (Kepri). Terpikirlah antara lain : apa dan dari mana datangnya ? Apakah muncul begitu saja dari dasar laut ala Tsunami ataukah jatuh dari langit ? Tapi ternyata tidak berasal muasal secara mendadak sontak baik dari dasar laut pun bukan dari langit. Melainkan kelompok penduduk yang datang dari Asia Selatan ke Nusantara, bersama kebudayaannya sekalian, dalam masa gelombang perpindahan penduduk sekitar 2500 SM. Sejak itu, dapat diperkirakan, akan ragam macam penduduk asal kawasan lainnya yang juga berdatangan mendiami pulau dan kepulauan Nusantara lainnya. Juga dengan bawaan budayanya masing-masing – dalam mana termasuk salah satu elemen penting, jika bukan yang essensil, yakni bahasanya masing-masing pula. Dengan demikian, semenjak terjadinya gelombang perpindahan penduduk 2500 SM hingga Abad Ke-21 M atau zaman modern ini, perkembangan peradaban manusia di kawasan Nusantara ini menjadi begitu luarbiasa. Selaras dinamika inter-relasi, inter-komunikasi, baik secara osmosia, silang-selang-seling maupun taut-bertautan hidup kehidupan di berbagai bidang adanya. *** (Akibr)